Minggu, 18 September 2011

Warkop Bintaro Sektor 3


Disaat tempat-tempat tongkrongan dah berfasilitas hotspot atau free wi fi, tempat ini alergi dengan itu. Tetep menjaga orisinalnya. Dari jaman kuda gigit kuku sampe kuda delman, gak jamak dengan itu. Tempat apa siy, cing?

“Warkop..” Yup, karena itu adalah warung kopi yang terletak di bilangan Bintaro sektor 3. Deket perempatan yang menghubungkan Sektor 3 dan Kampung Bonjol. Seratus meteran, mepet dengan SMP Al Azhar Bintaro. Tempatnya sederhana dan kecil. Bersebelahan dengan warteg dan pangkalan ojek.

Tempat Bahas Proyek Sekolah
Tempat itu istimewa, brur. Walaupun hanya tempat persinggahan orang-orang yang pengen ngupi tapi menyimpan cerita selama belasan taon.
Pertama kali tau tempat itu, saat masih SMA, bareng Wahyu, Handri, Abo, dan Lutfi. Kami gemar sekali begadang, terutama kalo dapet proyek dari sekolah. Padahal proyeknya ratusan ribu rupiah doang, tapi gayanya kaya dapet proyek jutaan rupiah. Pake catatan, print an proposal sampe calculator [untuk ngitung pembagian sisa proyek, jack]. Di tempat ini, kami bagi-bagi tugas lapangan termasuk bagi-bagi jatah sisa proyek. Ritualnya, sebelum proyek dikerjain, kami dah ngerayain dulu dengan makan indomie sampe bantet. Walhasil, setelah proyek kelar, perayaannya cuma teh manis dingin. Syukur-syukur ada gorengannya.  Itupun dari koceknya Abo.

Juga Ngebicarain, Ini..ni..
Selain ngebicarain proyek, tentunya gak akan manis kalo gak ngebicarain cewe-cewe di sekolah. Wahyu yang cuma sekali senyum langsung dapet gebetan, sampe Lutfi yang gugup kalo di deketin cewe.  Gimana gak gugup, yang deketin Lufti cewe dences. Yuuuk. Lalu, Handri yang suatu saat cerita deket dengan cewe A, besoknya dah bicarain jalan dengan cewe B, eeh..lusanya gandengan tangan dengan cowo C. Cowoo, boow. Becanda ding. Gimana dengan Abo? Iya, dari SMA pikirannya dah mateng and visioner abis. Seharusnya dari dulu, kita bikin partai aja, Bo. “Loe jadi wapresnya gue jadi capresnya.” Teteup.

Gak Berubah
Hingga waktu terus berjalan, kami memilih jalan hidup masing-masing. Warkop itu tetep seperti dulu. Penjaganya masih gemar cemberut dan speakless, sambil liatin pembeli yang makan. Tulisan di kacanya juga masih tetep sama, Warkop, sedia Bubur kacang ijo, telor ½ mateng, jamu dan roti bakar. Yang dijual juga gak berubah, kaya gorengan, sofel, autan, kopi instan, rokok sampe krupuk yang kadang alot. Tapi  kecuali harganya yang berubah. Naek 130%. Sebel.

Saya pernah ngeliat penjaga lelaki bertubuh gempal itu tersenyum, yaitu ketika pelanggannya yang mirip Della Puspita. Disuruh apa aja, gak bakal nolak. Seperti irisin potongan cabe di indomie, lalu bawang gorengnya yang dibanyakin. Kayanya disuruh joget  kuda lumping juga mau aja tuh. Dan ini adalah pemandangan yang sangat jarang. Oleh karena itu saya menikmati saat-saat dia disuruh.

Bencis
Warkop ini jarang memutar lagu. Mungkin pemiliknya menginginkan supaya kita lekas makan, bayar lalu pulang. Nah, karena alasan itu, peluang kosong tersebut dimanfaatkan oleh pengamen bencis.
Suatu ketika, selesai berdendang ala kadarnya, plus goyang ngebor Inul, bencis itu berkata, “Hay, cowo! Nama kamyu syapah?”  Merasa bingung, dia langsung menepak punggung saya.  “Ooh, saya?Mmm…Nama saya Taufik, eh Rudy deng..”Dia langsung menggamit pipi saya, dengan dua tangan kekarnya. Pipi saya dibawa ke kiri dan ke kanan sambil berkata, “Hayooo, jawab yang jujur, yaa tampaan…” Mau gak mau, saya menjawab dengan jujur, “Nama saya, Samiun..”
Bibirnya tebal, merah menyala, dengan make up yang rame, seakan ingin melumat bibir saya. Tapi kayanya dia pengen melumat mie yang nempel di dahi saya. Untungnya gak jadi. Perasaan saat itu deg-deg an, minta ampun.  Dan langsung bersumpah, gak mo jadi bencis. Setelah bencis itu pergi, semua tokeng ojek ketawa-ketiwi.

Warkop dan Warteg
Warkop ini bersebelahan dengan warteg. Yang menarik, warteg 24 jam ini selalu dihibur oleh nyanyian mba-mba penjaga warteg. Palagi ketika ada lagu-lagu di GenFM, suara penyanyi diradio kalah dengan suara mba-mba itu. Dan mereka mampu nyanyi sampe ketemu pagi lagi. Luar biasa sekali mendengar mereka menyanyi, karena begitu menghayati sekaligus kuaaat. Gayanya mirip sekali artis, sambil memegang hape seakan sebagai pengeras suaranya.

Entah hingga kapan warkop itu akan tetep ada. Yang pasti, terkadang semua cerita berawal dari tempat itu. Termasuk ketika menentukan nama anak saya yang seharusnya Danish Athar Besari.
Hingga sekarang, tempat itu seakan tetep menjadi kunjungan wajib kalo mampir ke Bintaro. Walaupun cuma untuk minum teh manis hangat sambil makan gorengan. Karena alasan diet, gorengannya cukup tiga belas ajah. Krupuk mienya tiga bungkus. Mmmm…terus, roti bakar coklatnya, dua tangkep cukuplah.  Roti bakar kacangnya, satu tangkep aja. Yummy.

1 komentar: