Minggu, 18 September 2011

Entah Siapa



Dulu, saya kerja di perusahaan yang membagi waktu kerjanya menjadi tiga shiff. Saat itu, saya mendapat giliran shiff dua, yaitu dari pukul 15.00-23.00 WIB. Kegemaran saya adalah duduk di lobby menjelang pukul enam sore. Lobby itu terdiri dari dua pintu, sepasang pintu utama depan dan sepasang pintu menuju lorong ruangan kerja. Kedua pintu tersebut terbuat dari kaca tebal dengan sistem sensor. Namun, setelah jam lima sore, pintu utama depan dikunci. Hanya sepasang pintu kaca menuju lorong ruang kerja yang tidak dikunci. Lobbynya terletak diantara dua pintu tersebut. Seperti layaknya lobby perkantoran, lobby itu dilengkapi dengan toilet pria dan wanita, plus sebuah ruangan pantry.

Setelah jam istirahat, yaitu menjelang maghrib, saya suka duduk-duduk sendiri di lobby sambil baca koran dan menyeruput teh hangat. Ada sensasi yang beda, mungkin karena saya bisa menikmati sunset seperti di pantai dari celah jendela lobby. Tapi jangan bayangkan saya memakai cawat dengan pelampung melingkari pinggang saya, seperti gaya seorang pelancong.

Lima menit menjelang maghrib, tiba-tiba ada suara gedoran pintu dari arah pantry. Saya kaget bukan kepalang. Gedoran itu berkali-kali. “Begundal macam mana yang iseng!”
Agak ragu untuk memastikan, tapi saya tidak cukup kuat untuk menahan keingintahuan gedoran itu. Akhirnya saya berjalan ke arah pantry. Saya buka pintu pantry tapi tidak ada siapa-siapa. Saya kembali ke sofa lobby dengan perasaan tidak karuan. Namun, beberapa menit kemudian gedoran itu berbunyi lagi. Kali ini lebih keras.

“Oke! That’s it!”
Kali ini saya tidak menyambangi pantry tapi berjalan menuju pintu lorong ruangan kerja. Sialnya, pintu menuju lorong kerja macet. Sensornya tidak bekerja. Padahal saya sudah melakukan berbagai gerakan, mulai dari poco-poco sampe moonwalkingnya Jacko, supaya sensor menangkap gerakan saya lalu pintu itu membuka. Tapi pintu itu tetap saja diam.

Lalu, dari bayangan kaca pintu, saya melihat kepulan asap yang terbang dibelakang saya. Saya yakin tidak ada yang terbakar di lobby. Lalu dari mana asal asap itu? Keringat dingin mengucur dari kepala hingga lengan. Jantung berdegup kencang. Konyolnya, saya malahan bernyanyi keras-keras, untuk mengusir rasa aneh itu.
Namun, di telinga saya terdengar bisikan “Ssssshhhhh..” Mungkin karena saat itu saya menyanyikan dangdut.
Beberapa saat kemudian, pintu membuka. Saya lari, bukan jalan lagi.

Usut punya usut, gedung baru itu punya cerita. Konon, ketika pembangunan lobby, ada dua orang tukang yang terjatuh, lalu tertimbun cor an semen hingga tewas. Ada yang percaya, kedua tukang itu tertanam bersama cor an. Hiiii…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar