Setelah 376 hari, 34 jam, 47 menit, 35 detik, Pailul berhasil melakukan sesuatu yang sangat besar. Energi yang dikeluarkannya juga dah melampaui level kemampuannya. Diiringi gejolak yang menggebu-gebu dan keringat bercucuran sampe membasahi lantai. Hingga mata terasa berat dan memerah untuk melakukan itu. Ngelakuin apaan? Kelarin baca buku Naked Traveler![Bangga bener, Lul].
Awalnya, Pailul memilih buku itu karena judulnya ada kata Naked, kata pertama yang dikenalinya ketika belajar bahasa tagalog…Eh, inggris ding. Plus buku itu berwarna biru pula, warna yang mengingatkannya akan genre film, yaitu blue film. Menurutnya, isi blue book akan sama dengan blue film.
Akhirnya, yakinlah Pailul untuk membeli buku itu, lalu mengendap ke kasir untuk membayarnya dengan uang ribuan lecek dan gopean. Cape deh, kasir dikerjain untuk ngitungin.
Dikamar, Pailul gak sabar untuk mengebet lembar perlembar halamannya. Setelah tujuh bab dia baru sadar, ternyata buku itu bukan seperti dugaan awalnya, yaitu buku bokep. [Telat bener, tujuh bab baru sadar].
Beberapa hari kemudian, Pailul cerita pada saya tentang pengalaman yang dia anggap buruk ini. Detail sekali penceritaannya, hingga akhirnya, dengan izin orang tuanya, saya ceritakan bukunya ke dalam tulisan ini. Untung aja, Pailul masih gaptek internet, apalagi kenal fesbuk, jadinya dia gak ngeh kalo penggalan pengalamannya saya tulis. Semoga dia gak pernah kenal fesbuk karena dia sangat narcis, semua foto kegiatannya pasti di captured. Mulai dari bangun tidur sampe mandi. Yaiks.
Buku setebal xii + 282 halaman yang kelar dibaca Pailul ini, diracik oleh Trinity dengan bahasa yang lugas, ringan, simpel, lucu sekaligus pribadi. Dalam buku dengan kaver sederhana ini, Trinity berhasil membawa Pailul ke nuansa pengalaman travelingnya ke berbagai pulau Indonesia dan ke 33 negara. Tanpa disadari, buku yang diterbitkan C|Publisihing ini, berhasil memikat Pailul dengan bahasanya yang naratif dan jujur.
Gaya penuturannya mengalir, mengisahkan petualangan backpacker dengan kejadian yang mungkin jarang kita temui ketika melakukan traveling. Diceritakan, penulis mampir ke airport Tanjung Redeb, Kalimantan Timur, untuk numpang dengan pesawat kecil. Saat boarding menunggu pesawat, ia mendengar tiga kali suara sirene. Suara sirene pertama adalah pemberitahuan agar penggembala ternak mengosongkan landasan. Sirine kedua adalah mengusir anak-anak yang nekat main sepak bola ditengah landasan. Lalu sirine ketiga, pesawat benar-benar akan mendarat.
Ada juga cerita ketika transit di airport Busuanga, Filipina. Disana, pilot turun dari pesawat, teriak-teriak ke calon penumpang untuk boarding yang akan berangkat ke Manila. Mungkin mirip timer angkot yang panggil penumpang.
Banyak sekali cerita lainnya yang disajikan dengan cara yang sederhana sekaligus memikat. Buku ini informatif untuk mengetahui beberapa bumbu kisah dibalik backpacker dengan duit terbatas dan referensi tempat-tempat non-turistik.
Yang pasti, Pailul ngerasa banyak hal yang dapat ditemui diluar sana, melalui traveling. Dan siapapun bisa menjadi backpacker asal mempunyai kemauan kuaaat untuk keluar dari zona kenyamanan. Kalo Pailul, dengan menjadi backpacker ataupun bukan, dia tetep aja berada di zona tidak nyaman alias melarat.
Met baca, yeh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar