Lagi, pulang kantor selepas jam sepuluh malam. Kelamaan, saya mulai menyukai kebiasaan ini, karena saat itu lalu lintas Jakarta tidak sehiruk-pikuk jam sebelumnya. Tidak macet dan angin semilir malam ngebuat badan terasa teduh. Kepala panas karena tekanan deadline, terasa adem oleh angin yang menyelinap kebalik helm.
Saat itu habis hujan, sepanjang jalan basah oleh genangan air. Angin malam bukan hanya membawa semilir tapi sekaligus dingin mencekat. Tapi saya tetap menikmati malam itu, apalagi ditemani mp3. Lagu-lagu itu seakan membawa saya pada nuansa imaji terlalu muluk. Apalagi kalau bukan lagu bertema cinta, tapi saya tidak pernah berhenti untuk menyukainya.
Malam itu, saya mengambil rute yang beda dari biasanya. Sedikit memutar dan mengulur waktu. Apabila saya mengambil rute itu, pasti melewati beberapa tempat remang-remang. Tempat yang selalu di penuhi oleh wanita penjaja seks yang asik merokok. Walaupun saat itu dingin, kode bajunya tetap mencirikan wanita sensual. Tentunya dengan tang top, celana pendek, sepatu high heels dan make up menornya. Matanya tetap memerhatikan setiap pengendara yang melewati tempat remang itu. Ditemani alunan Maliq n d’ essentials, “Maukah kau tuk menjadi yang pertama..Yang selalu ada disaat pagiku membuka mata..” mereka kerap memanggil siapapun yang berlalu. Untung aja, yang melewati tempat itu cuma satu dua pengendara. Karena jika jumlah pengendaranya seperti jalan protokol, abislah pita suaranya.
Tapi dari sekian pekerja seks komersial yang memanggil-manggil calon pelanggan, ada satu yang beda. Panggilannya mirip suara desahan. Seakan menciptakan gejolak one night stand dengan dramatisasi dinginnya malam.
“Ooooooh, maaas…kesiniiii, doooong….Oooooh…yeeeeees….”
Desahan itu terasa kurang cukup baginya, dia membuka retsleting yang membungkus dadanya. Lalu munculah pemandangan yang gak diduga sekaligus mengagetkan. “Busyeeet!” Iya, seperti yang Anda duga.
Satu dua pengendara yang melewatinya sempet berjalan pelan sambil memerhatikannya. Namun, entah pengendara itu khilaf atau doyan, mereka gak memerhatikan potongan tubuh penjaja seks itu. “Wanita” itu berperawakan jenjang, bahunya lebar, lengan atasnya kekar, betisnya besar dan satu lagi, berjakun pula.
Setelah itu, kepala saya pusing..mencari selokan untuk muntah sejenak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar