Selasa, 18 Oktober 2011

Siapakah Dia?

Siapa kah dia?
yang membuat aku kembali percaya bahwa aku tidak sendiri lagi
Siapa kah dia?
yang membuat aku yakin bahwa ada sesuatu y bisa dipertahankan
Siapa kah dia?
yang kehadirannya seperti tak akan terganti
Siapa kah dia?
yang selama ini membuatku tertawa untuk kelucuan dan kekonyolannya
Siapa kah dia?
yang membuat aku mampu melihat bahwa sebuah hati itu bulat bukan setengah seperti sebelumnya
Siapa kah dia?
Seakan dia adalah untuk aku dan hanya dia yang pantas untuk menggenggam kesetiaanku
Siapa kah dia?
yang tak akan pernah bisa kujamah untuk bisa berjalan bersama demi hari esok.

Senin, 19 September 2011

Keparat Cinta

"Sungguh, kau akan selalu menemaniku?"
Iya..

"Walaupun waktu yang bergulir, cinta kita akan selalu hangat, seperti matahari pagi?"
Iya..

"Apapun yang akan terjadi, kita akan selalu mencintai?"
Iya..

"Sehingga kita akan menjadi pasangan tua yang tetap berpegangan tangan?"
Iya..

"Dan seluruh jagat serta malaikat akan iri dengan cinta kita yang sejati?"
Iya..

"Lalu, mengapa aku lihat kau mencumbuinya?"
Karena aku bosan dengan cinta...

Setelah

Setelah melewati jalanan yang sesak oleh asap, debu dan emosi setan jalanan...
Setelah mendorong vespa dua kilometer karena ban bocor...
Setelah melalui hiruk intriknya hubungan budak-budak kantor...
Setelah menjalani penolakan tender...
Setelah menjelaskan segudang alasan berakhirnya hubungan gelap...
Setelah dipepet untuk ngirit makan siang...
Indahnya, tiba di kontrakan dengan selonjor kaki sambil mereguk teh manis hangat.

Tok...Tok....Tok....
"Baaang! Kontrakan b'lon dibayar neeeh! Pan dah tanggal dua lapan! Bulan kemaren juga belonan, ntuh! Ntar taro di selipan pintu aje, yeee! Aye ke kondangan ke Kebon Kacang dulu, dah! Inget, dah dua bulan, ntuh!"

Teh berubah jadi pahit dan anyep!

Minggu, 18 September 2011

Marketing Seks Komersial


Lagi, pulang kantor selepas jam sepuluh malam. Kelamaan,  saya mulai menyukai kebiasaan ini, karena saat itu lalu lintas Jakarta tidak sehiruk-pikuk jam sebelumnya.  Tidak macet dan angin semilir malam ngebuat badan terasa teduh. Kepala panas karena tekanan deadline, terasa adem oleh angin yang menyelinap kebalik helm.

Saat itu habis hujan, sepanjang jalan basah oleh genangan air. Angin malam bukan hanya membawa semilir tapi sekaligus dingin mencekat.  Tapi saya tetap menikmati malam itu, apalagi ditemani mp3. Lagu-lagu itu seakan membawa saya pada nuansa imaji terlalu muluk.  Apalagi kalau bukan lagu bertema cinta, tapi saya tidak pernah berhenti untuk menyukainya.

Malam itu, saya mengambil rute yang beda dari biasanya. Sedikit memutar dan mengulur waktu. Apabila saya mengambil rute itu, pasti melewati beberapa tempat remang-remang. Tempat yang selalu di penuhi oleh wanita penjaja seks yang asik merokok. Walaupun saat itu dingin, kode bajunya tetap mencirikan wanita sensual. Tentunya dengan tang top, celana pendek, sepatu high heels dan make up menornya. Matanya tetap memerhatikan setiap pengendara yang melewati tempat remang itu. Ditemani alunan Maliq n d’ essentials, “Maukah kau tuk menjadi yang pertama..Yang selalu ada disaat pagiku membuka mata..” mereka kerap memanggil siapapun yang berlalu. Untung aja, yang melewati tempat itu cuma satu dua pengendara. Karena jika jumlah pengendaranya seperti jalan protokol, abislah pita suaranya.

Tapi dari sekian pekerja seks komersial yang memanggil-manggil calon pelanggan, ada satu yang beda.  Panggilannya mirip suara desahan. Seakan menciptakan gejolak one night stand dengan dramatisasi dinginnya malam.
“Ooooooh, maaas…kesiniiii, doooong….Oooooh…yeeeeees….”

Desahan itu terasa kurang cukup baginya, dia membuka retsleting yang membungkus dadanya. Lalu munculah pemandangan yang gak diduga sekaligus mengagetkan.  “Busyeeet!” Iya, seperti yang Anda duga.
Satu dua pengendara yang melewatinya sempet berjalan pelan sambil memerhatikannya. Namun, entah pengendara itu khilaf atau doyan, mereka gak memerhatikan potongan tubuh penjaja seks itu. “Wanita” itu berperawakan jenjang, bahunya lebar, lengan atasnya kekar, betisnya besar dan satu lagi, berjakun pula.

Setelah itu, kepala saya pusing..mencari selokan untuk muntah sejenak. 




Warkop Bintaro Sektor 3


Disaat tempat-tempat tongkrongan dah berfasilitas hotspot atau free wi fi, tempat ini alergi dengan itu. Tetep menjaga orisinalnya. Dari jaman kuda gigit kuku sampe kuda delman, gak jamak dengan itu. Tempat apa siy, cing?

“Warkop..” Yup, karena itu adalah warung kopi yang terletak di bilangan Bintaro sektor 3. Deket perempatan yang menghubungkan Sektor 3 dan Kampung Bonjol. Seratus meteran, mepet dengan SMP Al Azhar Bintaro. Tempatnya sederhana dan kecil. Bersebelahan dengan warteg dan pangkalan ojek.

Tempat Bahas Proyek Sekolah
Tempat itu istimewa, brur. Walaupun hanya tempat persinggahan orang-orang yang pengen ngupi tapi menyimpan cerita selama belasan taon.
Pertama kali tau tempat itu, saat masih SMA, bareng Wahyu, Handri, Abo, dan Lutfi. Kami gemar sekali begadang, terutama kalo dapet proyek dari sekolah. Padahal proyeknya ratusan ribu rupiah doang, tapi gayanya kaya dapet proyek jutaan rupiah. Pake catatan, print an proposal sampe calculator [untuk ngitung pembagian sisa proyek, jack]. Di tempat ini, kami bagi-bagi tugas lapangan termasuk bagi-bagi jatah sisa proyek. Ritualnya, sebelum proyek dikerjain, kami dah ngerayain dulu dengan makan indomie sampe bantet. Walhasil, setelah proyek kelar, perayaannya cuma teh manis dingin. Syukur-syukur ada gorengannya.  Itupun dari koceknya Abo.

Juga Ngebicarain, Ini..ni..
Selain ngebicarain proyek, tentunya gak akan manis kalo gak ngebicarain cewe-cewe di sekolah. Wahyu yang cuma sekali senyum langsung dapet gebetan, sampe Lutfi yang gugup kalo di deketin cewe.  Gimana gak gugup, yang deketin Lufti cewe dences. Yuuuk. Lalu, Handri yang suatu saat cerita deket dengan cewe A, besoknya dah bicarain jalan dengan cewe B, eeh..lusanya gandengan tangan dengan cowo C. Cowoo, boow. Becanda ding. Gimana dengan Abo? Iya, dari SMA pikirannya dah mateng and visioner abis. Seharusnya dari dulu, kita bikin partai aja, Bo. “Loe jadi wapresnya gue jadi capresnya.” Teteup.

Gak Berubah
Hingga waktu terus berjalan, kami memilih jalan hidup masing-masing. Warkop itu tetep seperti dulu. Penjaganya masih gemar cemberut dan speakless, sambil liatin pembeli yang makan. Tulisan di kacanya juga masih tetep sama, Warkop, sedia Bubur kacang ijo, telor ½ mateng, jamu dan roti bakar. Yang dijual juga gak berubah, kaya gorengan, sofel, autan, kopi instan, rokok sampe krupuk yang kadang alot. Tapi  kecuali harganya yang berubah. Naek 130%. Sebel.

Saya pernah ngeliat penjaga lelaki bertubuh gempal itu tersenyum, yaitu ketika pelanggannya yang mirip Della Puspita. Disuruh apa aja, gak bakal nolak. Seperti irisin potongan cabe di indomie, lalu bawang gorengnya yang dibanyakin. Kayanya disuruh joget  kuda lumping juga mau aja tuh. Dan ini adalah pemandangan yang sangat jarang. Oleh karena itu saya menikmati saat-saat dia disuruh.

Bencis
Warkop ini jarang memutar lagu. Mungkin pemiliknya menginginkan supaya kita lekas makan, bayar lalu pulang. Nah, karena alasan itu, peluang kosong tersebut dimanfaatkan oleh pengamen bencis.
Suatu ketika, selesai berdendang ala kadarnya, plus goyang ngebor Inul, bencis itu berkata, “Hay, cowo! Nama kamyu syapah?”  Merasa bingung, dia langsung menepak punggung saya.  “Ooh, saya?Mmm…Nama saya Taufik, eh Rudy deng..”Dia langsung menggamit pipi saya, dengan dua tangan kekarnya. Pipi saya dibawa ke kiri dan ke kanan sambil berkata, “Hayooo, jawab yang jujur, yaa tampaan…” Mau gak mau, saya menjawab dengan jujur, “Nama saya, Samiun..”
Bibirnya tebal, merah menyala, dengan make up yang rame, seakan ingin melumat bibir saya. Tapi kayanya dia pengen melumat mie yang nempel di dahi saya. Untungnya gak jadi. Perasaan saat itu deg-deg an, minta ampun.  Dan langsung bersumpah, gak mo jadi bencis. Setelah bencis itu pergi, semua tokeng ojek ketawa-ketiwi.

Warkop dan Warteg
Warkop ini bersebelahan dengan warteg. Yang menarik, warteg 24 jam ini selalu dihibur oleh nyanyian mba-mba penjaga warteg. Palagi ketika ada lagu-lagu di GenFM, suara penyanyi diradio kalah dengan suara mba-mba itu. Dan mereka mampu nyanyi sampe ketemu pagi lagi. Luar biasa sekali mendengar mereka menyanyi, karena begitu menghayati sekaligus kuaaat. Gayanya mirip sekali artis, sambil memegang hape seakan sebagai pengeras suaranya.

Entah hingga kapan warkop itu akan tetep ada. Yang pasti, terkadang semua cerita berawal dari tempat itu. Termasuk ketika menentukan nama anak saya yang seharusnya Danish Athar Besari.
Hingga sekarang, tempat itu seakan tetep menjadi kunjungan wajib kalo mampir ke Bintaro. Walaupun cuma untuk minum teh manis hangat sambil makan gorengan. Karena alasan diet, gorengannya cukup tiga belas ajah. Krupuk mienya tiga bungkus. Mmmm…terus, roti bakar coklatnya, dua tangkep cukuplah.  Roti bakar kacangnya, satu tangkep aja. Yummy.

Cinta yang Beda


Sepasang kekasih duduk di angkot menuju bioskop menonton Virgin 3 : Film Porno Banget. Kekasih perempuannya tidak henti-hentinya mendendangkan setiap lagu yang diputar sopir angkot. Mulai dari rock hingga dangdut. Mulai dari When I See You Smile nya, Bad English hingga Gubuk Bambunya, Meggi Z.
Di hati perempuan itu hanya tersimpan nuansa cinta, yang diwujudkan dengan mendendang lagu asmara. Dan lagu-lagu itu dipersembahkan hanya untuk kekasih yang duduk disampingnya.
Baginya, cinta adalah segalanya. Cinta telah menjelma menjadi media memanjakan hati yang hanya bisa diungkapkan terhadap kekasih pujaannya. Pengorbanan demi cinta bukan menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Seperti pengorbanan kekasih perempuan itu yang semangat bernyanyi walaupun angkot penuh dengan hitungan 6-4 nya. Tentunya tangan kekasih itu sambil memegang erat hangatnya tangan kekasih lelakinya.

                                                         …….

Lelaki itu terdiam sambil sesekali tersenyum dan menyapu pandangan ke seluruh penumpang angkot. Namun kekasih perempuan itu, si lelaki, seringnya memandangi lekukan baju ketat kekasihnya.
Belahan dada kekasihnya terlihat, walaupun cuma satu centi dari batas atas baju ketatnya. Pandangan lelaki itu berpindah ke bibir sensual kekasihnya, dengan lipstick merah yang merona. Sesekali lidahnya menjulur, membasahi bibirnya sendiri.
Nafasnya tidak beraturan, jantungnya tidak bisa diajak kompromi untuk tenang. Dipikirannya berkecamuk fantasi nakal untuk bermain dengan dada kekasihnya. Berbagai strategi diatur serapih mungkin untuk menghangatkan suasana bioskop yang dingin dan gelap. Hanya dua hal yang ada dipikirannya, ciuman dan remasan. Ukuran selangkangan jeans lelaki itu berubah membesar.

                                                       …….

Begitulah, kekasih itu menafsirkan cinta dalam arti yang berbeda. Cinta yang penuh kasih asmara dan cinta yang penuh nafsu gejolak. Entah seperti apa, sebaiknya memperlakukan cinta. Apa ada yang salah dengan itu? Bagi mereka, cinta dengan nafsu akan lebih nikmat.

PS : Kira-kira yang pilih filmnya siapa?

Pemuda Nasi Uduk

Udin, pemuda kampung penggemar nasi uduk,
Menjelang pagi dah sibuk cari tempat duduk,
Walaupun semaleman begadang, mata Udin gak lagi ngantuk,
Disampingnya ada cewe cakep, bikin Udin kikuk,
Hobi makan semur jengkol terpaksa batal ditunjuk,
Walaupun lalet mengerubungi mulut Udin, dia cuek bubuk,
Karena cewe cakep bikin Udin gak suntuk,
Banyak pembeli yang pesen dan kasak-kusuk,
Cewe cakep giliran pesen, pilih gorengan sambil angguk-angguk,
Mungkin karena gorengannya beragam bentuk,
Cewe cakep pergi dengan belanjaan nasi uduk,
Giliran Udin pesen nasi uduk,
Sial, nasi uduk ludes, Udin langsung suntuk,
Lalet pindah, ngerubungi Udin yang buduk,
Sambil komat-kamit, Udin gak berhenti ngutuk,
Udin jalan pulang 3 km, sampe terbungkuk-bungkuk.