Selasa, 01 November 2011

Reuni Kita



Ketika kita mendengar kata reuni, hal yang terlintas dikepala kita adalah bertemu dengan kawan lama. Iya, kawan lama yang hampir tidak kita temui bahkan kita sapa secara intens seperti dulu. Begitu banyak memori yang terpendam tapi belum cukup untuk dikatakan terkubur.

Reuni membawa kita kembali duduk bersama dengan kawan-kawan yang pernah bersama kita dimasa lalu. Ingatan kita secara tak sengaja terlempar kebelakang, mengingat momentum masa lalu. Kadang, perasaan kitapun terlibat didalamnya hingga memberikan kesan dramatis. Tapi sekarang, semua itu berubah menjadicerita masa lalu, namun ada juga yang membawa masa lalu menjadi kisah masa depan dalam sebuah ikatan perkawinan ataupun kerja sama pekerjaan.

Lalu, apa ada hal lain yang terlintas dari reuni selain bertemu kawan lama? Mungkin kalau saya boleh menduga dari pikiran dangkal saya, reuni juga bisa dijadikan sebagai etalase keberhasilan, kesempatan broadcast status karier ataupun perkawinan dan sebagai panggung pertunjukan matrealisme. Itu Cuma kritisi subyektif. Siapapun boleh berpendapat dan menyangkal.

Tapi tunggu! Tentu ada motif subyektif lain y lebih baik. Ketika kita dihadapkan pada situasi untuk menyusun kembali cerita masa lalu y berserakan, kita dihadapkan pada situasi untuk memperbaiki diri. Memperbaiki diri yang seperti apa? Memperbaiki penyesalan diri kita y mungkin dulu terlalu genit bercumbu dengan kekeliruan di masa lalu. Maklum, kita pernah labil, kita pernah emosional dan terlalu eksplosif terhadap idealisme yang kadang terlalu naif dan egois.

Maka reuni dapat kita perlakukan sebagai sarana menjemput kembali pengalaman masa lalu itu, untuk kita susun kembali dalam kerangka perbaikan diri. Kita dapat melangkahkan kaki kita ke reuni dengan langkah yang rendah hati dan jernih. Dan menyadari bahwa kita masih belum optimal mendayagunakan jaring persahabatan untuk memutar turbin kebaikan secara lebih dahsyat dan baik lagi.

Semoga momentum reuni tidak sekedar sebagai pertunjukan tawa, pamer, konsumsi yang berlebih. Ada masih banyak celah untuk dimaknai dalam kata reuni seperti fungsi sosial. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain? Menempatkan reuni dalam bingkai yang tepat akan menjadikan kita dapat merestorasi persahabatan, melalui jalinan silaturahmi, menjadikan reuni lebih tepat guna. 

*tulisan menjelang reuni SMAN 90 Jakarta, angkatan 1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar